Disain Pembangunan Klaster Gaharu Di Kabupaten Bangka Tengah

Komoditi gaharu alam baik dari segi kualitas dan kuantitas semakin menurun di Indonesia. Ekspor gaharu alam dibatasi oleh kuota karena jenis-jenis Aquilaria dan Gyrinops telah masuk CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendi x II yang jumlahnya tidak lebih dari 700 ton per tahun (Santoso, 2015; Susmianto et al., 2013). Kualitas gaharu yang diekspor cenderung yang berkualitas rendah seperti kelas mutu abuk untuk produksi minyak gaharu dan dupa. Alternatif yang berkembang sejak dua dekade ini adalah kegiatan budidaya pohon penghasil gaharu di Indonesia begitu pesatnya, diperkirakan ada lebih dari 10 juta pohon telah ditanam di seluruh Indonesia (Santoso et al., 2014). Namun kegiatan ini masih sporadis dan tidak terstruktur, sehingga produksi gaharu budidaya belum diatur produksinya mulai dari tingkat petani gaharu, dan belum ada implementasinya dari pihak pemerintah pusat maupun daerah terutama regulasi khusus untuk budidaya gaharu.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi populasi pohon penghasil gaharu yang cukup tinggi di Indonesia. Kepedulian komunitas masyarakat di sekitar hutan di Babel mempunyai kesadaran tinggi untuk membudidayakan pohon penghasil gaharu, dan pemerintah daerah turut membantu pengembangan gaharu di Babel. Kabupaten Bangka Tengah telah menyusun “Roadmap pengembangan HHBK kabupaten Bangka Tengah sebagai klaster gaharu”. Salah satu strategi pengembangan gaharu yang dapat melibatkan banyak stakeholder di tingkat provinsi/kabupaten adalah pengembangan klaster gaharu. Klaster gaharu merupakan kegiatan usaha industri gaharu “one stop services” dimana setiap pelaku usaha dan fasilitator di tingkat provinsi/kabupaten memberikan kontribusi yang nyata dalam setiap step pembangunan klaster gaharu. Setiap satker/skpd memberikan andil dan terencana pembiayaan serta implementasi pengembangan klaster gaharu mulai dari industri hulu, tengah, dan hilir.

Permasalahan teknis pengembangan klaster gaharu yang dihadapi adalah teknologi inokulasi gaharu yang kompatibel dan konsisten untuk mendukung produksi gaharu yang berkesinambungan. Kemampuan SDM di tingkat daerah perlu ditingkatkan melalui kegiatan pelatihan singkat yang praktis mulai dari pelatihan teknologi inokulasi, teknik pemanenan, pengolahan produk, teknik penyulingan minyak gaharu, teknik produksi dupa, tasbih, gelang, dan lain-lain. Permasalahan penting yang akan dihadapi adalah serangan hama dan penyakit pada pohon penghasil gaharu.

Disain klaster gaharu ini bertujuan untuk memberikan arah pembangunan klaster gaharu dan menjembatani stakeholder yang terlibat dalam pengembangan model klaster gaharu di Kabupaten Bangka Tengah, dan tentunya komitmen yang nyata berupa penyediaan anggaran dari masing-masing SKPD, fasilitas fisik bangunan dan infrastruktur jalan, pelatihan-pelatihan berbasis aplikasi pembangunan industri gaharu, dan mengawal dan evaluasi kegiatan klaster gaharu setiap tahunnya. Pembangunan klaster gaharu ini mungkin akan sedikit mengalami adaptasi karena ada rencana setiap provinsi mulai mengimplementasikan UU No.23 Tahun 2014 yang berkaitan dengan kewenangan kehutanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sumber: 
Kabupaten Bangka Tengah
Penulis: 
Slamet Riyanto
Tags: 
Desain Klaster Gaharu