Ngopi Ala Om Su

Ngopi dalam Perspektif Pemberdayaan Masyarakat Kehutanan di KPHP Muntai Palas

Semua orang nyaris tidak ada yang tidak pernah ngopi. Ngopi sudah menjadi kebiasaan masyarakat di mana saja, tak terbatas hanya di Indonesia. Ngopi kadangkala menjadi aktivitas pelepas penat setelah bekerja, atau sekadar mencari inspirasi ataupun bersosialisasi bersama relasi. Warung kopi bermunculan dengan berbagai brand kopi, mulai dari brand impor sampai brand lokal. Konsekuensinya, ngopi telah membuka peluang bagi warga sebagai alternatif sumber ekonomi. Hal ini ternyata dipahami betul oleh kawan-kawan KPHP Muntai Palas. Menyadari potensi ekonomi dari tradisi ngopi, potensi lahan untuk menanam kopi dan peluang pasar yang ada, membuka inspirasi bagi Sugeng Sumiarto, penyuluh kehutanan wilayah UPT KPHP Muntai Palas untuk mulai berbuat sesuatu.

Ditemui di sela-sela kegiatan bimbingan teknis pengisian simluh dan simping, Sugeng Sumiarto, yang akrab disapa Om Su ini menguraikan awal niatnya untuk menginisiasi kopi dalam kombinasi kelola usaha  agroforestry. “Kalau kita pahami, sebenarnya nilai ekonomi hutan dari kayu itu hanya 10% saja. Itu ada penelitiannya. Saya lupa. Sementara 90% itu nilai lain potensi sumber daya hutan yang ada di dalam hutan yang belum termanfaatkan dengan baik. Karena memang potensinya kita belum banyak tahu, sehingga banyak sekali sebetulnya potensi sumber daya hutan yang ikut hilang ketika terjadi konversi hutan. Nah, apalagi dengan kondisi eksisting kawasan hutan yang sudah mulai terdegradasi. Nilai ekonominya tentu akan semakin menurun. Hal ini yang kemudian mendorong adanya konversi pada kawasan hutan itu, entah untuk tambang, entah untuk sawit atau untuk penggunaan lainnya,” terangnya. “Ya, mau tidak mau nilai hutan harus kita upgrade agar lebih bernilai ekonomis namun tetap menjamin fungsi ekologisnya. Kopi salah satunya,” jawabnya saat disinggung apa yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi semakin turunnya nilai hutan tersebut.

Konsep yang akan digunakan nantinya adalah agroforestry. Agroforestry adalah pola pemanfaatan kawasan hutan dengan mengkombinasikan tanaman kehutanan yang berjangka panjang dengan tanaman pertanian yang dapat berproduksi dalam jangka pendek. Konsep agroforestry ini yang akan dicoba oleh KPHP Muntai Palas untuk menyiasati semakin rendahnya nilai kawasan hutan, agar konversi hutan tidak terus terjadi. “Agroforestry akan kita coba. Rencananya tanaman kehutanannya pelawan, duren dan alpukat serta kopi sebagai tanaman bawahnya. Bibit kopinya khusus dari Lampung. Sekaligus kami ingin membuat brand baru dari Bangka Selatan”, terangnya. “Alhamdulillah, ide ini disambut hangat kawan-kawan jajaran pemerintah desa, terutama dari Kepala Desa dan BPD Tiram. Dengan begini, kami di KPHP Muntai Palas sangat terbantu. Plus saat ini di Desa Tiram, kami sudah dibantu oleh PKSM (Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat-red), Pak Cipto. Pak Cipto dan warga Desa Tiram sangat resah bila kawasan hutan yang ada di wilayah desa Tiram jadi te-i (istilah tambang illegal-red) semua. Salah satunya mereka berharap perhutanan sosial bisa menjadi benteng. Kami harus bergerak!” ujar Sugeng.

Skema pemanfaatan hutan yang nantinya akan diterapkan adalah skema perhutanan sosial, yaitu Hutan Kemasyarakatan. “Sekarang KTH (kelompok tani hutan-red) sudah dibentuk. KTH Rimba Tiram Lestari, Desa Tiram, Kec. Tukak Sadai. Sudah ada semai bibit kopi 10.000 bibit. Untuk demplot dulu. Untuk proses usulan saat ini sedang kami siapkan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kami kirimkan ke Kementerian,” terangnya.  “Jika masyarakat merasakan manfaat ekonomis dari hutan itu, maka saya yakin masyarakat akan ikut menjaga hutan. Komunikasi yang baik tetap kami bangun dengan masyarakat. Bagaimana pola pemanfaatan hutan yang tepat sesuai dengan aturan agar ekologi hutan tetap terjaga, itu yang terus kami komunikasikan. Alhamdulillah, masyarakat bisa memahami. Bahkan ada warga yang sudah menanam sawit dalam kawasan dengan sukarela mencabut semua sawitnya. Saya sangat terharu,” beber Sugeng.

Ketika disinggung bagaimana strategi pengamanan hutan yang dilakukan di KPHP Muntai Palas, Sugeng menjelaskan pentingnya peran masyarakat di tengah minimnya SDM yang ada di KPHP Muntai Palas. “Saat ini kami merasakan bahwa masyarakat-lah mitra kami yang mampu untuk ikut berjuang mempertahankan hutan. Kami akan terus membangun jejaring yang baik dengan masyarakat, membangun pemahaman mereka. Skema perhutanan sosial saya kira bisa diandalkan. Apalagi kita kekurangan SDM dalam pengawasan hutan. Namun tidak lupa kami tetap membangun sinergi dengan instansi lain, tentunya dalam kapasitas kami, sebagai penyuluh, membangun komunikasi dan kesepahaman dengan stakeholder terkait,” sambung Sugeng.

Pola agroforestry dalam pemanfaatan hutan adalah strategi optimasi untuk meningkatkan nilai hutan. Agroforestry akan mewujudkan hutan yang multiproduk dengan multinilai sehingga nilai hutan akan ikut terdongkrak. Hal ini penting agar proses konversi hutan menjadi bukan hutan (deforestasi) dapat diminimalisir. Dalam perspektif pemberdayaan masyarakat, maka pola perhutanan sosial diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat dalam koridor aspek ekologis kawasan hutan. Dengan demikian, cita-cita hutan lestari masyarakat sejahtera akan menjadi nyata. Ini bukan mimpi, bila dibarengi kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Namun, penyuluh harus berorientasi kerja untuk masyarakat sebagai bentuk ibadah dalam menunaikan tugas mulia, membangun masyarakat. Tidak terkenal di bumi, tapi terkenal di langit tentu sangat jauh lebih baik. Berjuanglah kawan-kawan penyuluh!

Penulis: 
Oktedy Andryansah, S.Hut
Sumber: 
UPTD KPHP Muntai Palas
Tags: 
Ngopi | KPHP Muntai Palas